A documentary of merapi’s eruption on November 2010


Minggu, 07 November 2010                                                                         14:24-15:40 WIB

merapi meletus 2010Menjelang sore di salah satu sudut kabupaten Yogyakarta, Gunung kidul. Aku tak tau pasti berapa jarak antara merapi dengan tempat ku berdiam saat ini. Kemarin, aku baru saja datang ke tanah kelahiran ku ini semenjak awal aku datang di jogja. Ditemani gemuruh merapi ku menulis. Aku tak kuasa menahan setiap tetes air mataku jika sedang mengingat kota yang kutinggalkan kemarin, ya kota Yogyakarta hadiningrat. Aku memang tidak dibesarkan di kota itu, namun semenjak ku kecil aku sangat mencintai kota budaya, kota pelajar, atau kota wisata itu. Sering dahulu sewaktu aku SD atau SMP aku mengarang-ngarang cerita indah tentang jogja kepada teman-teman, padahal jalan-jalan dikota jogja saja tidak pernah. Tapi aku tetap bangga saja menceritakannya.

Setelah ku lolos SNMPTN 2009 kemarin, akhirnya aku berhasil kembali ke tanah kelahiran ku ini untuk menimba ilmu dan berbagai macam pengalaman. Awalnya, aku tidak betah disini. Kehidupan disini begitu asing dimata ku, aku pun baru mengenal kampusku, UNY. Aku masih sangat buta jalan, buta jogja. Tapi seiring berjalannya waktu, aku malah merasa sangat betah dikota budaya ini, banyak teman ku dapat, ya bukan hanya teman, tapi juga sahabat dan seorang kekasih. Orang-orang disini pun begitu ramah, aku pun banyak mengenal keluarga besar ku di sini, mereka baik-baik. Rasa solidaritas yang kuat pun ku rasakan disini. Banyak pengalaman ku dapat, banyak pengetahuan ku dapat, dan banyak-banyak lainnya. Dan semua berubah begitu saja semenjak 26 oktober 2010. Hari itu sang gunung pembelah antara Jogjakarta dan jawa tengah meletus kembali. Saat itu aku tak begitu merespond, karena tak berimbas apa-apa untuk kota jogja ku, khususnya wilayah kost dan kampus.

Dan letusan demi letusan susulan pun terus terjadi, hingga yang terbesar jumat, 05 November 2010 dini hari. Pada letusan hari itu jarak aman menjadi 25 KM dari merapi. Hujan abu dan pasir pun menyelimuti kota Jogjakarta, magelang, purworejo, klaten, semarang, dan bahkan sampai ke wilayah bogor, bandung, tasik Malaya. Sungguh besar letusan kala itu. kamis sore keadaaan jogja sudah sangat mencekam. Hujan petir dan awan gelap menyelimuti kota jogja. Hmm, aku baru ingat, rabu, 03 november 2010, ada beberapa teman himaku yang mengunjungi salah satu pengungsian di daerah magelang. Bermaksud untuk mensurvey apa-apa saja yang dibutuhkan untuk para pengungsi disana. Mereka berangkat ke pengungsian pukul 13.30 WIB. dan sorenya kira-kira pukul 15.30 wib MERAPI kembali meletus dan saat itu pula jogja sedang dilanda hujan deras. Langsung saja ku teringat mereka yang sedang mensurvey disana, langsung ku sms ke salah satu kakak angkatan ku (Agung), dia bercerita keadaan disana. Menurut ceritanya, para pengungsi disana langsung berkemas-kemas ketika letusan itu terjadi karena disana diterjang hujan lumpur. Selain itu, lahar dingin pun terus mengalir. Suasana sangat mencekam dan panic disana. Ku suruh mereka untuk segera pulang ke jogja. Tapi mereka terhambat pulang, karena jalan penuh lumpur dan mereka masih terus membantu para pengungsi disana. Tapi Alhamdulillah mereka dalam keadaan baik-baik saja. mereka kembali ke jogja pada malam harinya, dengan keadaan yang carut marut kotor oleh lumpur. Tapi mereka lah pahlawan. Esoknya penggalangan bantuan pun dilakukan. Teman-teman hima menggalang dana ke seluruh teman-teman kami satu jurusan di semua angkatan. Rencana akan kami salurkan bantuan itu kembali di magelang pada hari jumat, 05 november 2010. Namun, kuasa Allah berkata lain.

Dini hari Jumat, 05 november 2010 jogja kelabu. Pukul 02.00 wib aku tebangun daari tidur ku yang baru 2 jam terlelap, aku dibangunkan oleh mas agung  lewat sms. dia mengatakan merapi meletus, suara gemuruhnya terdengar hingga kota jogja. Jogja dilanda hujan abu dan pasir. Aku dipinta untuk waspada. Sontak aku kaget, dan ketakutan. Langsung aku pindah ke kamar temannku yang ada tv nya. Kunyalakan tv. Ku lihat berita, disana disiarkan betapa mencekamnya situasi letusan merapi beberapa jam yang lalu. Merapi terus meletuskan material vulkaniknya. Awan panas, abu, pasir, lava, lahar dingin, ia terus keluarkan tanpa ampun. Awan panas menerjang apa saja yang ada di depannya saat itu dengan pergerakan seccepat 100 km/jam, jarak aman pun meluas hingga 20 km dari merapi. Cangkringan, ngemplak, srumbung, desa argomulyo, klaten, magelang, muntilan, menjadi zona merah merapi. Banyak korban berjatuhan, sekali lagi tanpa pandang buluh. Hujan abu dan pasir pun menerjang kota Jogjakarta dan sekitarnya. Saat kejadian , aku tidak berani keluar dari kost hingga pagi hari. Pagi hari ketika matahari pancarkan kembali sinarnya, aku takjub melihat keadaan area kost ku, abu tebal dan pasir menjadi satu dengan ketebalan yang lumayan. Sms-telpon pun berdatangan tak henti-hentinya ke hp ku, hanya untuk menanyakan bagaimana kabar ku di jogja. Aku berusaha tenangkan mereka, terutama ayah dan ibu ku. Aku baik-baik saja. pada saat itu aku belum sama sekali terfikir untuk mengungsi. Kemudian, agak siang  aku dapat ajakan dari teman untuk menjadi relawan di GOR UNY. Hati ku terpanggil untuk turut membantu, tapi kembali, aku tak berani bergerak bila belum mendapat ijin dari bapak. Benar saja, ketika aku ingin nekat berangkat. Tiba-tiba aku dapt sms lagi, bahwa relawan di GOR sudah melebihi dari cukup. Alhamdulillah. Tapi aku penasaran sekali dengan keadaan jogja. Lalu teman kuliah ku tiba-tiba mengajakku untuk bertemu dengan rekan bisnis kami. Mas priyo namanya, kami janjian di SC saat itu. Lalu karena alasan itu, aku pun dijemput teman ku dan berangkat ke kampus. Hati ku seakan tersayat melihat jalanan yang begitu mencekam. Pasar yang sering kulewati ketika berangkat kuliah pun sangat sepi, tak banyak yang berjualan. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Aku meminta teman ku untuk melewati GOR UNY. Aku penasaran dengan keadaan disana. Ketika ku lewati, benar saja. sudah sangat ramai disana. Banyak relawan yang berada dijalan membagikan masker-masker gratis. Aku tersenyum. Lalu kulanjutkan kembali perjalananku menuju FMIPA. Ku lewati FBS dan SC sebelumnya. Miris. Keadaan tertutup abu. Sambil menunggu kami pergi ke puskom. Di puskom sepi, hanya ada beberapa mahasiswa. Ku lihat ke hima depan puskom berada. Disana, mereka sibuk menyiapkan bala bantuan untuk merapi. Kembali aku tersenyum dan malu karena aku tak bisa membantu menjadi relawan atau apa. Lalu ku langsung terbang di dunia maya, ku buka berbagai Koran online dan tentu tak lupa “facebook”. Berita disana dituliskan berbagai macam berita merapi. Lalu aku teringat dengan mbak septi yang sedang di cari-cari keberadaannya oleh teman ku. Ku ceritakan sedikit, mbak septi ialah kakak angkatan ku, nama lengkapnya septiani, dia kelas dilogi reg 08. Langsung ku buka facebooknya melalui akun facebook ku. Ku buka “septi segera pulang”. Lalu, ku baca sedikit wall-wall yang dikirim teman-teman mbak septi, dari wall-wall itu aku sadar kalo mbak septi sedang benar-benar menghilang. Lalu, Ku tulis wall untuknya, bunyinya “mbak septi yang semangat ya!” karena saat itu yang ku dengar kabar bahwa ayah mbak septi menjadi korban luncuran awan panas di cangkringan. Tak lama setelah menulis wall itu, aku langsung kembali ke tujuan utama ku, bertemu dengan rekan bisnis batikku di SC. Lalu aku keluar puskom dan meluncur ke SC. Di SC banyak UKM yang masih sibuk dengan kegiatan sosialnya untuk membantu saudara-saudara kita di pengungsian. Kembali aku tersenyum. Tak dapat di bohongi sewaktu di SC itu pun aku mencari mas w (kekasihku), apakah dia ada disitu atau tidak, karena kami sudah tidak bertemu sejak 2 minggu. Dan benar-benar lost contact 3 hari. Aku mencarinya, namun tak bertemu. Setelah itu aku bertemu dengan rekan bisnis ku, hanya sebentar. lalu aku kembali ke kost ku. Miris hati ku melihat jogja sepanjang perjalanan pulang. Hati ku pun terus berkecamuk, bagaimana kabar mas W saat ini! Aku bertanya-tanya kabarnya, apa dia turut menjadi relawan atau bagaimna. Hanya 10 menit dari SC, Aku pun tiba di kost.

Sore itu, Ketika sedang beramai-ramai menonton berita merapi bersama teman kost, aku mendapat kabar dari mas agung, bahwa mbk septi menjadi korban luncuran awan panas di cangkringan dini hari tadi. Sontak air mata ku tak terbendung, aku tak kuasa bicara apa-apa. Aku kaget dan tidak percaya, baru skitar 1 jam yang lalu ku kirim wall untuknya, dan kemudian ku dapat kabar kepulangannya. Innalillahiwainnailaihirajiun.. selamat tinggal mbk, walau aku tak begitu mengenalmu dekat. Namun aku cukup mengenalmu di facebook dan MAKRAB yg lalu, ya dan saat itu pula lah ku terfikir denga nickname fb mu “septi segera pulang”. Wallahualam. Semoga kesalahanmu diampuni Allah, dan mbak diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT.  AMIN.

*** ***next…

19:47-21:00 WIB

Kulanjutkan tulisan ku malam ini, aku agak tenang setelah aku mengadu kepada tuhanku hari ini. Alhamdulillah. Ya, lanjut ke kisah ku pada hari jumat kemarin. Setelah ku dengar kabar duka itu aku mulai panic dengan keadaan jogja, aku menjadi teringat tentang keadaan jogja yang mencekam. Apalagi disaat aku ingin membeli makanan di warung-warung tenda pinggir jalan. Sepi, sepi sekali jalan adi sutjipto malam itu. Pedagang-pedagang hanya sedikit yang tetap membuka lapaknya. Padahal, bila dihari biasa, tak perlu bingung mau makan apa. Tapi Alhamdulillah, disaat keadaan jogja yang sedang mencekam itu ada satu waarung tenda yang membuka dagangannya, aku dan teman ku pun membeli makanan disana. Sambil menunggu aku melihat ke jalanan samping warung tempat kami membeli makanan. Sambil duduk, aku memperhatikan jalanan, ku lihat banyak warga jogja yang ku kira pasti sedang ingin mengungsi ke rumah masing-masing, hmm pasti mahasiswa. Tapi juga aku melihat juga para relawan hiruk pikuk melewati jalanan malam itu, ada juga ambulans, sepintas merinding ketika ambulans itu lewat, ya saat itu aku masih sangat shock mungkin. Dari situ dorongan untuk pulang kerumah pun semakin terpacu, namun apa daya aku harus menunggu kabar selanjutnya mengenai tugas KKL ku ke Bali yang seharusnya akan di adakan pada 10 November 2010 esok. Akhirnya setelah aku timbang-timbang dan aku pun “curhat” dengan ayah ku, aku putuskan untuk kerumah mbah ku di wonosari, gunung kidul, esok harinya,  kira-kira jarak merapi GK >90 km. Aku pun di ingatkan ibuku untuk berkemas, agar bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan aku sudah siap, atau agar aku tidak perlu kerepotan lagi berkemas esok hari bila ingin berangkat ke gunung kidul. Ku turuti nasihat ibu ku. Aku berkemas. Malam itu aku tidak berani tidur sendirian. Untung saja teman kost ku mau menemani ku tidur dikamar. Tadinya kami hanya berdua, tapi entah kapan, salah satu teman kost ku yang lain ikut bergabung tidur bersama. Pintu kamar memang sengaja ku buka. Semenjak merapi aktif, tidur ku tak pernah nyenyak. Setiap berapa jam aku pasti terbangun, dan pasti setiap aku terbangun, aku selalu melihat hp ku, dan tetap terus mencoba menghubungi mas W, tak lupa aku juga membuka facebook lewat hp smart ku. Guna melihat kira-kira perkembangan merapi lewat akun-akun berita online yang menjadi temanku di facebook. Dan akhirnya pagi datang, aku tersenyum melihat sabtu pagi, 06 november 2010. Pagi itu cuaca cerah. Sedikit memberi nafas lega untuk kota Jogjakarta. Pagi-pagi aku langsung bebenah. Mencuci, masak, mandi dan kembali berkemas. Pukul 08:00 WIB aku berangkat ke gunung kidul, sendirian naik bis. Pagi itu walau cuaca cerah, jogja lengang. Bis yang biasanya tak pernah sepi ku taiki, pagi itu hanya ada 3 penumpang dan itu sudah termasuk aku. Ya, mungkin sudah banyak warga jogja yang mengungsi atau memilih untuk menetap di rumah saja, tidak kemana-mana. Sepanjang perjalanan, jogja sudah tidak terlalu berdebu seperti hari jumat kemarin. Pagi itu abu dan pasir sudah tergerus hujan yang mengguyur kota jogja pada jumat malam. Alhamdulillah, kami dapat sedikit bernafas leluasa. Akhirnya aku sampai dirumah mbah ku pada pukul 10:30 WIB. ini pun sampai atas jasa mbak sepupu ku. Beliau menjemputku ketika aku sudah sampai di “selang”. Terimakasih mbak. ^^ tiba di rumah mbah ku ini, hati ku masih carut marut dengan pikiran-pikiran ku yang masih terus terbang di jogja, terbang khawatir dengan teman-temanku disana, khawatir juga dengan keadaan mas W. Aku yakin pasti mas W menjadi salah satu relawan. Tapi aku tak tahu dimana ia menjadi relawan. Aku benar-benar merindukannya. Sepanjang hari pikiran ku terus terbang kemana-mana. aku pun terus menonton berita tv yang menayangkan tentang merapi. Aku ingin tau perkembangannya walau hanya sedikit. Dari rumah mbh ku ini aku terus memantau terus perkembangan kabar teman-teman ku. Dan terus mencoba hubungi mas W, walaupun hasilnya terus nihil. Tapi aku yakin, pasti cepat atau lambat, ia akan menghubungi ku.

Hari berganti, minggu 07 November 2010. Hari ini aku tetap terus memantau teman-teman dan perkembangan merapi juga tentu saja tak lupa kabar mas W. Khawatir muncul ketika mas agung bilang, ia dan teman-teman akan mengunjungi desa cangkringan, lokasi tempat makrab jurusan kami 2 minggu sebelum merapi meletuskan isi perutnya pertama kali. Aku khwatir, karena disana merupakan zona berbahaya merapi, sedangkan merapi masih sangat aktif. Tapi Alhamdulillah, mereka haya sebentar disana. Siangnya mereka berada di RS Sardjito, guna menjemput jenazah alm. Mbak septi yang akan di makamkan massal di seyigan. Tapi sampai magrib ternyata, jenazah mbak septi belum juga dimakamkan. Sampai tulisan ini kubuat pukul 20:38 WIB, aku belum mendapat kabar lagi. Tapi aku berdoa semoga walau jenazahnnya belum dimakamkan, alm. Tenang di alam sana. Dan tman-teman yang membantu diberi pahala setimpal, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin. Semoga esok hari jogja semakin cerah dan merapi kembali bersahabat. Amin, ya Allah lindungi kami!!

*** ***

Senin, 08 November 2010 pukul 13:50-14:13 WIB

Jogjakarta kelabu, ya mungkin kata itu bisa kita sedikit ganti dengan “Jogjakarta bangkit, merapi mereda”. Hari ini aktivitas merapi mulai menurun. Ini ku baca dari berita berjalan yang ada di metro tv siang tadi. Semalam kira-kira pukul 22:00 WIB merapi sempat erupsi kembali namun dalam itensitas yang tidak sebesar erupsinya pada hari jumat kemarin. Erupsinya ini terjadi hingga pagi hari, salah seorang teman ku masih melihat lava yang meleleh di lereng gunung merapi dan wedus gembel yang terus keluar melalui kostnya, Namun, seiring siang, aktivitas merapi dinyatakan menurun oleh BPPTK. Alhamdulillah, satu kalimat yang ku ucapkan ketika ku baca berita itu. Ini bukti kuasa Allah, bahwa kita hanya boleh percaya padanya saja, tidak pada ramalan-ramalan yang malah menghancurkan atau menggoyahkan keyakinan kita. Allah maha kuasa, dengan kebaikkan dan kearifannya Jogjakarta bisa agak bernafas lega hari ini. Karena hari ini aktivitas merapi menurun. Syukur Alhamdulillah. Baru mendapat kabar sesaat yang lalu dari temanku, hari ini ia dan beberapa temanku yang lain pulang ke rumah mereka masing-masing. Ke daerah purworejo dan magelang. Mereka sengaja baru pulang hari ini karena kemarin-kemarin, mereka sibuk menjadi relawan dan mengurus jenazah alm. Mbak Septiani. Mereka tadi berangkat bersama-sama lewat purworejo kira-kira pukul 10:00 WIB. cerita mas agung. Yang rumahnya di magelang, selama perjalanan suasana perjalanan masih sangat mencekam, mengerikan. Pohon tumbang disana-sini. Jarak pandang mereka pun terbatas oleh abu dan pasir vulkanik merapi yang masih sangat banyak tertimbun di jalanan. Mengerikan. Mungkin itu salah satu potret mengerikan akibat letusan gunung merapi pada jumat dini hari kemarin. Hari ini aktivitas merapi menurun, waktunya untuk berbenah. Membersihkan sisa-sisa letusan gunung merapi. Duka pasti masih banyak menempel di hati para korban. Namun, kehidupan masih terus harus berjalan. Jangan terus bersedih teman, jangan terus gundah bu, pak! Tersenyumlah sedikit, esok merapi pun pasti akan membalas lebih manis senyum indah mu.

*** ***

Selasa, 09 November 2010  15:06-15:35 WIB

Hari ini aku tidak terlalu mendengar banyak kabar merapi, karena sedari pagi aku sibuk beres-beres di rumah simbahku ini. Mencuci, memasak, dan sebagainya. Hanya tadi melihat berita sedikit, dikabarkann kalo merapi masih mengeluarkan awan panas, tapi tidak sebesar yang kemarin-kemarin. Ya bisa dibilang merapi hari ini terus membaik. Alhamdulillah. Namun tadi siang, kira-kira pukul 14:00 WIB. bantul diterjang gempa sebesar 5,6 SR yang berpusat di 125 KM barat daya bantul di kedalaman 10 KM. aku yang saat ini berada di gunung kidul pun turut merasakan gempa tersebut. Tidak hanya gunung kidul, kulonprogo, kota jogja, magelang, dan klaten pun turut merasakannya. Innalillahi.. semoga allah terus menjaga kita semua. Semoga jogja tidak kembali kelabu seperti kemarin lagi. Amin. Ah iya, sedikit cerita tentang cuaca yang melanda jogja akhir-akhir ini. semenjak awal bulan November jogja sedang musim-musimnya hujan. Hujan setiap hari tak pernah absen. Apa lagi  disini, di gunung kidul ini, di sini hujan terus melanda apa bila sudah dibawah pukul 12:00 WIB. setiap kali ku menulis tulisan ku ini pun, selalu dalam keadaan hujan atau mendung atau hujan sedang mereda. Hujan yang terus melanda jogja ini ada sisi baiknya dan ada sisi jeleknya juga, sisi baiknya abu-abu yang ada dijalanan dapat terkikis, sehingga tidak lagi beterbangan di jalan dan menggannggu pandangan mata orang-orang yang melewatinya. Dan sisi buruknya ialah, hujan dapat menyebabkan banjir lahar dingin ke Jogjakarta, atau rumah-rumah yang atapnya belum dibersihkan abu atau pasirnya bisa rubuh tak kuat menahan beban. Ya tapi, aku selalu berdoa semoga jogja dalam keadaan apapun, dan walau sedang di serang dari penjuru arah tetap menjadi kota sejuta pesona, tetap tabah dan kuat. Allah pasti melindungi dan menjaga kita semua. Amin.amin ya rabbal alamiin.

*** ***

Rabu, 10 November 2010 10:03-10:30 WIB

            Hari ini jogja cerah, Alhamdulillah. Walaupun semalaman habis tersiram hujan. Keadaan disana juga telah pulih. Abu-abu dijalanan telah terkikis hujan, dan perkonomian disana pun turut beraktivitas normal kembali. Kabar ini ku dapat dari kekasih ku disana dan juga berita pagi tadi di televisi. Walau begitu  masih banyak pengungsi disana. Di dekat rumah simbah ku juga menjadi lokasi pengungsian korban merapi. Oya, mengenai kekasih ku ini, akhirnya tadi malam dia ada kabarnya juga, setelah sekian lama menghilang. Aku marah, iya kemarin-kemarin aku marah dengannya. Bayangkan saja, kita berada di satu kota yang sama, kampus yang sama, tapi fakultas dan jurusan beda. Belum bertemu selama hampir sebulan. Hmm, dan tiba-tiba ketika merapi meletus dia menghilang, tak ada jejak, tak bisa dihubungi. Panik. He em,! Pikiran-pikiran jelek berkecamuk di hati. Tapi pikiran positif juga ada, lalu opini-opini dari teman-teman ku pun turut meracuni pikiran ku. Aku bingung, bimbang, gak tau harus apa. Yasudah, semua ku pasrahkan pada Allah. Tiap dalam sholat ku, aku berdoa untukknya. Lalu sampai tadi malam, kira-kira jam 20:30 WIB, aku dengar ayam berkokok berulang kali, lalu aku ingat pada suatu mitos yang dikatakan bahwa jika terdengar suara ayam berkokok dimalam atau dini hari, itu berarti ada malaikat yang turun, maka berdoalah atau sholat malam. Malam itu juga, disaat ayam masih berkokok, aku titipkan doa pada malaikat, aku titip doa mohon yang terbaik untuk hubungan ku dengan W. Lalu, aku pun tidur. Jam 11 malam aku terbangun, tidak ada sms/telp darinya. Lalu aku terlelap kembali hingga adzan subuh. Jam 4 pagi, ku lihat hp, ah ternyata ada sms. Tidak terlalu antusias membukanya, karena paling juga dari temanku atau siapa. Mata ku langsung melek saat ku tau kalau sms itu dari mas W, Kekasih ku yang njelei itu. Hehe.. dia minta maaf baru kasih kabar, dan sebagainya dan sebagainya. Ya aku marah, tapi juga aku senang. Marah ku tiba-tiba luluh begitu saja ketika mendengar kabarnya. Luluh benar-benar luluh. Ah, gini ni efek cinta. Ceiileee…Bikin orang klepek-klepek, preeett.  Semua yang sudah di tata di otak bisa berantakanm gara-gara cinta. Hmm. Dia menghilang karena selama ini membantu sedikit-sedikit pengungsi korban merapi. Dia gak mau di bilang relawan, tapi ya itu dia, itu yang kusuka darinya. Rendah hati, gak ikut-ikutan. Dia senang berjalan di atas pemikirannya sendiri. Itu juga yang menarik darinya. Syukurlah. Aku lega sekarang. Semoga hubungan kita terus berjalan walau banyak badai menerjang. Dan semoga kamu bisa tahan sama aku. Amiiin.

15:37-WIB

Sore hari ini kembali di depan jendela kayu tempoe doeloe, tapi sore ini tidak ditemani hujan, atau muka masam. Seharian ini muka ku rasanya enak dilihat, ya walaupun sbenarnya muka ku pas-pasan. Hehe. Tapi lebih baik dari kemarin-kemarin. Mungkin hal ini juga disebabkan efek satu jiwa ku yang telah muncul kembali. Layaknya sebuah lilin di satu ruang gelap. Laron atau manusia pasti akan langsung mendatangi lilin itu, karena disana ada cahaya, dan cahaya itu membuat tenang. Dan hari ini aku menemukan cahaya ku kembali, ya walaupun untuk sementara waktu hanya sebuah bayangan. Mudah-mudahan cepat ku bisa bertemu lagi dengan cahaya ku. Merapi. Satu tema besar ku yang tak habis-habis ku bahas. Baru saja tadi pagi aku sedikit menarik nafas lega ketika mendengar kalau merapi mulai kembali membaik, namun ternyata disaat aku menulis pagi tadi, merapi erupsi kembali. Mengeluarkan awan panas dan hujan abu di sekitar barat daya kota jogjakrta, yaitu magelang. Daerah kecamatan salam, magelang dikabarkan mengalami hujan abu yang cukup deras tadi pagi. Sehingga abu makin tebal saja disana. Belum lagi abu yang lama hilang, sudah muncul abu yang baru lagi. Yasudahlah, sekali lagi ini semua merupakan kuasa Allah. Terima saja. insya Allah cepat atau lambat merapi pun akan tersenyum lagi. Pasti dan amin. Menurut cerita pacarku, aktifitas magma di dalam perut merapi masih terus aktif dan bergejolak. Dan apabila kita berada di dekatnya, gempa vulkanik dan suara bergemuruh pasti masih terdengar. Tapi, tidak sehebat sewaktu tanggal 05 november kemarin. Awan panas masih terus membumbung tinggi di angkasa. Kadang juga tertiup angin dan mengenai hingga berjarak ratusan meter saja. aku juga melihat telivisi, dikabarkan beberapa mayat lagi ditemukan hari ini. Alhamdulillah. Sedih ikut terharu ketika melihat berita itu. tapi ikut lega karena keluarga yang di tinggalkan tidak perlu merasa kuatir lagi. Semuanya sudah jelas. Jasad sudah ada, tinggal kita pasrahkan pada Allah. Nrimo kalau kata orang jawa. Yang jelas merapi masih menyimpan misteri hingga kini. Kita sama sekali tidak dapat memprediksi bagaimana aktifitas merapi selanjutnya. Tapi, berdoa agar merapi terus membaik itu perlu dan harus. Karena ini jogja kita, jogja Allah yang dititipkan pada kita, dan kita harus senantiasa menjaga nya dikala susah atau senang. Berjuang jogjaku, pancarkan senyummu kembali. Merapi kembalilah bersahabat seperti dulu, maafkan kami jika kami banyak berbuat salah. Kembalilah tenang, jangan marah lagi!!

*** ***

Jum’at, 12 November 2010     20:27-21:00 WIB

Kembali menulis. Hilang satu hari karena ada suatu acara yang tak bisa di tinggalkan. Aku tidak begitu mengetahui kabar merapi kemarin. Aku hanya mengetahui sedikit, yaitu seperti biasanya merapi masih mengeluarkan awan panas nya dan menuju kearah barat daya merapi.

*** ***

Sabtu, 13 November 2010 14:56-WIB

Bismillah, aku coba menulis lagi sore ini. semoga mood ku telah benar-benar kembali. Dalam keseluruhannya Alhamdulillah merapi dari hari kamis hingga sabtu ini terus membaik walau kemarin sore sempat mengalami erupsi kembali dan lumayan besar, tapi tidak terlalu menyebabkan hal yang parah bagi masyarakat. Karena, awan panas yang waktu itu berhembus jarak luncurnya tidak jauh. Hanya saja, hujan abu kembali turun ke daerah barat daya merapi. Tapi tak apa, tak terlalu mengkhawatirkan karena masyarakat lereng merapi pun sudah banyak yang mengungsi dan sudah banyak yang merasa terbiasa atas aktivitas merapi ini. aku kemarin sempat ke warnet (warung internet) untuk mencari tahu tugas dari dosen ku dan sedikit mencari dan mengunduh artikel-artikel industry dan merapi untuk ku baca. Sesampainya di rumah simbah ku, aku pun membaca unduhan artikel berita merapi ku. Banyak info baru ku ketahui. Menurut sumber bacaan yang ku baca, letusan gunung merapi tahun ini hampir menyerupai letusan pada tahun 1872. Hal ini sama pada kelamaan rentang waktu erupsi merapinya, pada letusan merapi tahun 1872 itu pun aktivitas erupsi terjadi secara terus menerus dan rentang waktu yang lama. Namun, volume ledakannya tidak sebesar tahun 1872. Pada tahun 1872, merapi meletus pada level yang paling tinggi. Explosive meluluhlantakkan kerajaan mataram pada masa itu. kalau tahun ini hanya pada level 3, besar namun tidak sebesar pada tahun 1872. Namun begitu, pada level ini saja sudah banyak memakan korban. Tadi siang aku mendengar berita dari televise, dikatakan bahwa ratusan koraban atau pengungsi merapi mengalami gangguan jiwa. Innalillahi, sungguh besar efek psikologis merapi pada masyrakatnya. Tapi ada juga korban merapi yang positif-positif saja terhadap aktivitas merapi ini, mereka tidak berpikir buruk mengenai aktivitas merapi saat ini. hal ini bisa dimaklumi karena mereka sangat mempercayai mitos mbah petruk yang menjadi penunggu merapi. Menurut cerita masyarakat ini, merapi yang sedang meletus ini merupakan symbol bahwa mbah petruk sedang menggelar hajatan. Dan efek letusan-letusan ini pun tidak akan seburuk yang orang-orang piker. Karena setelah merapi mereda esok, daerah sekitar merapi bahkan di daerah-daerah yang turut mengalami efek letusan merapi akan mengalami kesuburan terutama di bidang agraris. Lagi pula letusan merapi ini juga membawa hikamah bagi pemerintah, masyarakat dan sebagainya. Hubungan kekerabatan semakin erat. Solidaritas menolong sesame kuat, dan mungkin perbaikkan system tata pemerintahan yang sebelumnya amburadul bisa agak terbaiki semenjak merapi meletus. Banyak hikmah terkandung dalam setiap letusan merapi, ada buruknya namun jyga lebih banyak baikknya. Tetap semangat walau kondisi merapi masih belum benar-benar normal. Karena sesuatu akan lebih nikmat bila melalui proses terlebih dahulu. Sebagaimana merapi, untuk menjadi normal kembali, merapi pun memerlukan proses. Walau perlahan, tapi pasti akan segera membaik. Amin.

Minggu, 14 November 2010 pukul 16:30-WIB

            Kabar gembira untuk Yogjakarta, hari ini merapi sama sekali tidak mengeluarkan awan panasnya kembali, tidak juga hujan abu. Jarak aman merapi pun kini untuk daerah klateen menjadi 10 km, dari yang tadinya 20 km. untuk daerah boyolali menjadi 15 km, namun untuk daerah sleman jarak aman merapi tetap 20 km. ini merupakan suatu kemajuan, pertanda merapi mulai kembali baik. Amin. Tapi perjalanan masih panjang. Tadi selintas ku dengar berita bahwa tim SAR kembali menemukan satu orang jenazah di daerah cangkringan, aku melihat wujud mayat itu sepintas, mengerikan. Tubuhnya hitam, mungkin yang tersisa hanya sedikit daging yang telah hangus dan tulang belulang yang juga berwarna hitam yang terlihat dsana sini. Aku teringat dengan alm. Mbak septi, apa wujud jenazahnya kemarin juga dalam keadaan yang seperti itu. tapi ku kira tidak, karena jenazahnya waktu itu masih bisa dikenali dan masih dalam keadaan yang utuh. Lalu aku juga melihat kondisi pedesaan di daerah-daerah yang dilintasi awan panas, terutama daerah sekitar kali gendol. Kini, desa itu benar-benar tak berdaya, letusan merapi benar-benar meluluhlantakkan kondisi desa-desa, pertanian, perkebunan, dan juga peternakan yang ada di sekitarnya. Aku melihat kondisi pedesaan-pedesaan itu seperti layaknya aku melihat sebuah gurun pasir. Pasir benar-benar telah menutup semuanya. Rumah, kebun, sawah, tambak ikan, jalan, jembatan tak terlihat lagi kini, sejauh mata memandang hanya pasir yang terlihat. Belum lagi ditambah rusaknya sungai yang ada, karena sungai-sungai kini hanya ada endapan lumpur lahar dingin, sekalipun ada air, itu pun aliran lahar dingin. Dan tentu saja hal ini sangat membahayakan masyarakat sekitar. Ancaman banjir lahar dingin pun masih mengancam masyarakat sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu di merapi.

Senin, 15 November 2010      20:24-20:31 WIB

            Malam takbir. Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar lailahaillahuallahuakbar Allahuakbar walillahilham. Alhamdulillah. Masih diberi umur ku dengar takbir lagi tahun ini. Seiring takbir berkumandang, seiring doa dilantunkan. Semoga esok kan menjadi idul adha yang menyenangkan kita semua. Terutama untuk para korban-korban merapi yang di tahun ini harus berlebaran di barak-barak pengungsian. Amin. Walaupun sampai saat ini merapi belum benar-benar menghentikan aktivitasnya, tapi Alhamdulillah seiring bertambah hari, merapi semakin membaik keadaannya. Bencana ini terjadi pasti memiliki hikmah-hikmah yang indah dan bermakna. Dan pasti akan berakhir happy ending. Tetap bersabar, tetap husnudzon, tetap ikhlas. Insya allah cepat atau lambat semua akan kembali normal. Kembali baik. Amin ya rabbal alamin.

 

Dian “a documentary of merapi’s eruption on November 2010 by my side”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s