GEORG SIMMEL


  • Georg Simmel lahir tahun 1858 di pusat kota Berlin. Ayahnya seorang pedagang Yahudi kaya, yang masuk agama Kristen, dan meninggal ketika Georg masih sangat kecil, dan hubungannya dengan ibunya agak jauh. Sesudah kematian ayahnya, seorang teman keluarga itu diminta untuk menjaga Georg, dan kekayaan berupa uang yang ditinggalkan oleh pengasuhnya itu memungkinkan dia untuk mempertahankan suatu gaya hidup borjuis yang enak, meskipun selama karirnya dia tidak berhasil memperoleh uang.
  • Simmel termasuk penganut sosiologi formal, yaitu lebih menekannkan pada bentuk dan tidak terlalu menekankan pada isi.
  • Bentuk vs Isi:
  • Isi kehidupan sosial meliputi, insting erotic, kepentingan objektif, dorongan agama, bermain, keuntungan, bantuan/interaksi.
  • Bentuk kehidupan sosial meliputi, superioritas(dominasi) dan subordinasi (ketaatan), kompetisi, pembagian kerja, pembentukan partai, solidaritas, dll.
  • Interaksi timbale balik, dalam suatu masyarakat pasti ada interaksi sosial yang terjadi. Sehingga, menghasilkan sosiasi (proses dimana masyarakat itu di bentuk)

Bentuk-bentuk interaksi sosial

  • Sosiabilita, Membicarakan bentuk interaksi, tanpa mempertimbangkan isi. Contoh: silaturahmi dengan rekan kerja, maka yang dibicarakan adalah hal-hal di luar pekerjaan, walaupun sering bertemu di kantor, dan walaupun sebenarnya tidak penting. Atau sekedar hanya berbasa-basi saja.Interaksi tidak terbatas pada masalah praktis sehari-hari.
  • Hubungan seksual, Sebagaimana sosiabilita merupakan bentuk otonom atau bentuk “bermain” dari sosiasi, pacaran adalah bentuk otonom atau “bermain” dari dorongan-dorongan erotic atau insting. Hubungan pacaran ditandai oleh suatu keseimbangan yang harmonis antara kedua ekstrem itu. Masing-masing pihak akan menampilkan perilaku yang merangsang dengan memberikan kesan daya tarik seksual yang ada pada waktu itu, dan sekaligus dengan caranya sendiri menahan untuk berbuat atau menuntut suatu kesungguhan yang tegas. Dengan cara ini mereka bisa menikmati bentuk hubungan seksual yang menarik dan memuaskan diri tanpa memasukkan isi dari hubungan seperti itu.
  • Superordinat dan subordinat (dominasi dan ketaatan), dominasi tidak perlu memperhatikan pentingnya ketaatan. Dalam banyak hal, dominasi memperhitungkan kebutuhan atau keinginan ketaatan, meski hanya bertujuan mengontrol ketaatan. Dalam hal ini, dominasi dipengaruhi oleh ketaatan.
  • Konflik (sebagai salah satu bentuk dari interaksi), pendapat mengenai konflik adalah sesuatu yang “abnormal” dan keduanya merusakkan persatuan kelompok, merupakan pandangan BIAS. Lawan dari persatuan bukanlah konflik, melainkan keterlibatan. Itensitas konflik sering berbanding langsung dengan tingkat solidaritas hubungan itu atau persamaan dalam tidak hanya hubungan-hubungan yang terutama bersifat kompak yang mempunyai beberapa elemen konflik, tetapi juga hubungan-hubungan antagonism dan konflik memiliki beberapa elemen yang mempersatukan.

–> Jumlah dan bentuk sosial

  1. Bentuk duaan (dyad), masing-masing individu di konfrontasikan oleh hanya seorang lainnya. Tanpa ada suatu kolektifitas bersama, yang bersifat supersonal. Dilain pihak jika salah seorang ingin keluar dari kelompok duaan, maka satuan sosial itu dengan sendirinya lenyap. Berdua itu sepasang, bertiga itu kerumunan (two is company, three is crowd), keunikan lain adalah bahwa rahasia dapat dijaga oleh satu orang dan tidak lebih.
  2. Bentuk tigaan (triad), merupakan satuan sosial yang paling kecil, masing-masing pihak dikonfrontasikan dalam pluralitas, setiap orang terpaksa untuk memperhatikan persamaan dari dua orang lainnya.
  • Kreatifitas individu vs bentuk budaya yang mapan, kebudayaan adalah produk manusia yang kreatif. Tetapi sekali bentuk budaya itu ada, mereka dapat menghalangi kreativitas selanjutnya. Selain itu, perkembangan kemampuan kreatifitas individu menuntut mereka untuk menginternalisasi produk budaya obyektif yang ada kedalam kesadaran subyektif.
  • Dialektika, individu tersosialisasikan dalam kehidupan masyarakat, selalu memiliki hubungan yang bersifat dualistis, disatu pihak itu merupakan anggota masyarakat tersebut. Tetapi pada waktu yang sama, dia juga menentang adanya masyrakat itu sendiri. Dialektis yang dimaksud disini yaitu individu mengalami suatu kebingungan dalam menentukan pilihan, dimana individu merupakan bagian dari masyarakat yang mempunyai aturan atau norma-norma yang harus dipatuhi, tetapi di lain sisi individu tersebut mempunyai kepentingan atau keinginan yang tidak sesuai dengan norma tersebut. Sebagai contoh konkrit yaitu pada system masyarakat Bali (jaman dahulu karena sekarang sudah luntur) dianjurkan untuk menikah dengan seseorang yang memiliki kasta yang sama, tetapi karena sudah terlanjur cinta kepada seseorang yang memiliki kasta lebih rendah, Individu tersebut tetap menikahi seseorang yang dicintainya dan melanggar aturan yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini menggambarkan suatu individu yang hidup dalam masyarakat, mensosialisasikan dirinya pada masyarakat tersebut, tetapi dilain pihak individu juga menentang aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tersebut.

è The Philosophy Of Money

Bahwa orang mempunyai sifat yang unik, yaitu dapat menciptakan jarak dengan objek dan dapat juga menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut.

ü  dampak negative uang:

  • meningkatnya sinisme dan sikap tak acuh
  • merebaknya hubungan inpersonal antar individu
  • resuksi nilai manusia menjadi aktor
  • dampak uang pada gaya hidup

4 responses to “GEORG SIMMEL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s