RUMAH KITA PANAS


Panas, cuaca ekstrim, musim yang semakin tidak menentu, banjir, hilangnya pulau-pulau, mencairnya lapisan es gletser di kutub utara, munculnya penyakit-penyakit baru, mulai terjadinya kepunahan pada beberapa spesies hewan, dan sebagainya merupakan situasi-situasi yang akhir-akhir ini ada di sekitar kita. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena adanya pemanasan global atau orang lebih sering menyebutnya global warming atau efek rumah kaca. Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi[1].

Banyaknya CO2 dan gas-gas polutan lain dalam udara menyebabkan sinar matahari yang sampai ke bumi dan akan di pancarkan kembali ke angkasa, sebagian tertahan oleh gas-gas itu, kemudian di kembalikan lagi ke bumi. Akibatnya suhu udara bumi makin panas. Pada dasarnya, efek rumah kaca menyebabkan atmosfir bumi menjadi hangat dan membuat bumi dapat ditinggali oleh makhluk hidup. Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi planet yang amat dingin. Sayangnya, efek rumah kaca tersebut mengalami peningkat an beberapa dekade belakangan ini[2]. Hal ini lah yang menjadi factor penyebab utama mengapa terjadi berbagai fenomena alam di bumi atau sebagaimana yang telah dipaparkan di awal.

Salah satu bukti nyata dari adanya Global Warming ialah cuaca ekstrim yang terjadi di kawasan Eropa, Para peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (Potsdam-Institut für Klimafolgenforschung/PIK) di Jerman mengatakan, musim dingin ekstrem yang terjadi berturut-turut di benua Eropa dalam 10 tahun belakangan ini adalah akibat mencairnya lapisan es di kawasan Artik, dekat Kutub Utara, akibat pemanasan global[3].pemanasan global

Mengapa pemanasan atau global warming terus saja meningkat terjadi di sekitar kita. Apakah hal ini tidak bisa di tanggulangi? Peneliti lingkungan dan sains berpendapat bahwa manusia ialah penyebab utama global warming . Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir. Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah[4].

Dampak-dampak ekstrem global warming akan terus menghantui kita bila fenomena alam ini terus saja dibiarkan. Berbagai cara harus dilakukan untuk menangani masalah ini. melakukan 5 R (reduce, reuse, recycle, replace dan rethink), melakukan deforestisasi (penanaman pohan kembali setelah usai ditebang), menghemat penggunaan listrik, menyaring dampak negative akan adanya globalisasi, tidak menggunakan barang sekali pakai, dan lain sebagainya.

Solusi-solusi ini mungkin telah banyak di gembar-gemborkan di kalangan masyarakat. Dan telah banyak organisasi-organisasi bahkan masyarakat sampai seorang individu sendiri telah menerapkannya. Namun, banyak juga yang sama sekali tidak memperdulikan fenomena alam yang berbahaya bagi kehidupan manusia ini. untuk itu, menanamkan rasa empati yang kuat terhadap bumi pun penting. Empati atau simpati tidak harus melulu di persembahkan untuk sesama manusia, namun juga bisa dipersembahkan pada rumah kita sendiri, yaitu bumi. Bagaimana memulai nya? Mulai lah dari perilaku diri sendiri. Merubah pola-pola hidup yang berdampak negative bagi bumi. Di mulai dari diri sendiri kemudian orang-orang di sekitar pun akan ikut tertular untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang telah kita lakukan. Jika kita bisa mencintai rumah kita (bumi) maka bumi pun akan mencintai kita dan akan terus setia menunjang kehidupan kita selama di dunia. STOP GLOBAL WARMING. (Dian, 26 Desember 2010)


[1] http://geo.ugm.ac.id/archives/28 di unduh pada 26 Desember 2010 pukul 09:30 WIB

[2] http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/ di unduh pada 26 Desember 2010 pukul 10:29 WIB

[4] http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/ di unduh pada 26 Desember 2010 pukul 11:05 WIB

14 responses to “RUMAH KITA PANAS

  1. global warming?????
    masalah yang sudah “ngoyot” ne…
    dari dulu terus2an ya an…tp moga ja deh bis bca artikel mu ini orang2 bisa inget lagi pentingnya menjaga keseimbangan alam.ktanan kita manusia intelek….ya ora??

  2. Can I just say what a relief to seek out somebody who truly is aware of what theyre speaking about on the internet. You positively know how to carry an issue to gentle and make it important. More people need to learn this and perceive this side of the story. I cant consider youre not more common because you definitely have the gift.

  3. I’d have to test with you here. Which is not something I often do! I enjoy studying a publish that can make people think. Also, thanks for permitting me to comment!

  4. for Buy Propecia: thank you. it’s nice to read your comment. Go Green, Go Happy😀
    For Cialis: thank’s a lot 4 your comment.🙂 let’s keep our world into a comfort zone. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s