Konflik Sampit Dalam Perspektif Sosiologi


Manusia diciptakan dengan banyak perbedaan. Setiap individu masing-masing mempunyai sejarah dan karakternya yang unik. Selain itu dalam diri seorang individu masing-masing memiliki nilai-nilai yang memandu perilaku dan pikirannya, sehingga dalam kehidupan bermasyarakatnya peluang untuk terjadi suatu konflik sosial sangatlah besar. Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Konflik timbul sebagai akibat ketidakseimbangan hubungan (kesenjangan sosial, perbedaan status sosial, akses sumber daya, dan kekuasaan).

Robbin, Myers, dan Stoner memberikan pandangannya mengenai konflik dalam tiga perspektif.

  1. Pandangan Tradisional
  •   Konflik merupakan sesuatu yang negative merugikan dan harus dihindari
  •   Konflik terjadi karena adanya disfungsi komunikasi
  1. Pandangan hubungan manusia (pandangan modern)
  • Konflik dianggap sebagai peristiwa yang wajar terjadi
  •  Sesuatu yang tidak dapat dihindari karena adanya perbedaan pandangan
  1. Pandangan Interaksionis (pandangan modern)
  •  Konflik harus didorong untuk selalu muncul
  •  Konflik perlu dipertahankan sehingga akan ada dinamika

Konflik seringkali berujung pada kekerasan. Kekerasan dapat berupa tindakan, perkataan, sikap, atau berbagai struktur atau system yang menyebabkan kerusakan. Seperti halnya yang terjadi pada kasuk konflik Sampit pada Februari 2001 silam. Konflik ini merupakan konflik perang antar suku Madura dan Dayak (suku asli di wilayah Sampit). Kekerasan, pembantaian, penjarahan, merupakan akibat dari konflik Sampit ini.cont…

Konflik Sampit yang terjadi pada Februari 2001 merupakan salah satu rangkaian konflik yang telah terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Segelintir rangkaian kejadian konflik-konflik yang terjadi antara suku dayak dan Madura telah dituliskan dalam Buku Merah: Konflik Etnik Sampit, Kronologi Kesepakatan Aspirasi Masyarakat, Analisis, Saran; Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah (LMMDDKT); Tahun 2001). Adapun detail perjalanan Konflik antar Etnis Dayak dan Madura selengkapnya berdasarkan deskripsi Laporan LMMDDKT, pada tabel. 1.1 berikut:

Tabel 1.1. Perjalanan Konflik Etnis Madura dan Etnis Dayak

No

Tahun

Lokasi

Kronologi Peristiwa

1 1972 Palangkaraya Seorang gadis dayak digodai dan diperkosa. Diselesaikan dengan perdamaian menutut hukum adat.
2 1982 - Pembunuhan terhadap seorang Dayak oleh Orang Madura. Pelakunya tidak ditangkap, pengusutan hukum tidak ada.
3 1983 Kec. Bukit Batu, Kasongan Seorang Etnis Dayak dibunuh, perkelahian 30 Orang Madura melawan satu Orang Dayak. Dilakukan perdamaian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, isinya: Jika Orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalimantan Tengah.
4 1996 Palangkaraya Seorang gadis dayak diperkosa di gedung Bioskop Panala oleh Seorang Madura, lalu dibunuh secara kejam. Penyelesainannya dihukum ringan.
5 1997 Desa Karang Langit, Barito Selatan Orang Dayak dikeroyok oleh Orang Madura, dengan perbandingan 2:40, dan Orang Madura meninggal semua. Orang Dayak ditindak dengan hukuman berat, padahal dalam konteks membela diri
6 1997 Desa Tumbang Samba, Kec. Katingan Seorang anak laki-laki dibunuh oleh seorang Suku Madura penjual sate. Padamulanya pertikaian antara Tukang Sate dengan pemuda Dayak, namun ketika dikejar tidak didapat. Maka, Seoarang anak yang kebetulan lewat pada akhirnya menjadi korban.
7 1998 Palangkaraya Orang Dayak dikeroyok oleh empat Orang Madura, pelaku tidak dapat ditangkap dan korban meninggal. Tidak ada penyelesaian secara hukum.
8 1999 Palangkaraya Seorang petugas Ketertiban Umum (Tibum) dibacok oleh Seorang Madura. Pelakunya ditahan, namun esoknya dibebaskan tanpa tuntutan hukum.
9 1999 Palangkaraya Seorang Dayak dikeroyok beberapa Orang Madura, terkait masalah sengketa tanah. Dua orang dayak meninggal. Pembunuh lolos karena pergi ke Pulau Jawa. Saksi yang berasal dari Suku Jawa di hukum 1,5 tahun.
10 1999 Desa Pangkut, Kec. Arut Utara, Kab. Kota Waringin Barat Perkelahian massal antara Suku Dayak dan Madura karena Orang Madura memaksa mengambil emas pada saat Suku Dayak menambang emas. Tidak ada penyelesaian hukum.
11 1999 Desa Tumbang Samba Terjadi penikaman terhadap suami isteri Orang Dayak oleh tiga Orang Madura. Biaya perawatan ditanggung Pemda. Pelaku tidak ditangkap, karena sudah pergi ke Pulau Jawa.
12 2000 Desa Pungkut, Kota Waringin Barat. Satu keluarga Suku Dyak meninggal dibunuh oleh Orang Madura, pelaku pembunuhan lari. Tidak ada penyelesaian hukum.
13 2000 Palangkaraya Satu Orang Dayak meninggal dikeroyok oleh Suku Madura di depan Gereja Imanuel. Pelaku lari dan tidak ada proses hukum.
14 2000 Desa Kereng Pangi, Kasongan. Terjadi pembunuhan terhadap seorang Suku Dayak, dikeroyok oleh Orang Madura. Pelaku kabur, pergi ke Pulau Jawa. Tidak ada penyelasaian hukum.
15 2001 Sampit Konflik Sampit

Ketegangan terus terasa di Kalimantan Tengah menyusul kerusuhan antar etnis yang diperkirakan menewaskan 500 orang dan menyebabkan 80.000 orang terpaksa meninggalkan rumah. Berdasarkan catatan LMMDDKT, kronologis konflik Sampit yang terjadi dimulai pada tanggal 18 Februari 2001 diawali oleh terjadinya perkelahian antara Suku Madura dengan kelompok Suku Dayak di Jalan Padat Karya, yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan satu orang luka berat, kesemuanya berasal dari Suku Madura. Setelah itu terjadi pembakaran rumah Suku Dayak sebanyak dua buah, yang dilakukan oleh Suku Madura dan satu rumah lagi dijarah. Kejadian ini mengakibatkan tiga orang meninggal yang kesemuanya berasal dari Suku Dayak. Kerusuhan semakin berkembang dan terjadi pembalasan antar suku yang pada akhirnya kerusuhan tersebut merambat hingga ke Kota Palangkaraya, berdasarkan laporan LMMDDKT, tercatat bahwa korban meninggal sebanyak 383 orang, korban luka-luka 38 orang, korban materiil 793 rumah terbakar, 48 buah rumah rusak, dan sebanyak 57.492 orang dievakuasi melalui laut untuk kembali ke Pulau Madura. (Laporan LMMDKT, 2001).

Suku dayak dan suku Madura merupakan beberapa contoh Gemmeinschaft atau paguyuban yang ada di Indonesia. arti dari Gemmeinschaft sendiri ialah suatu perikatan manusia dengan perasaan setia kawan dan kesadaran kolektif yang besar. Dalam bentuk pergaulan hidup yang merupakan paguyuban (gemmeinschaft), kerelaan berkorban, kesetiaan, dan ketaatannlah sifat-sifat yang paling terpuji. Dalam setiap paguyuban pasti memiliki kaidah-kaidah sosialnya masing-masing. Kaidah adalah aturan umum mengenai tingkah laku atau perbuatan, yang berdasarkan pertimbangan kesusilaan, kebiasaan, atau wawasan local. Karl Mannheim mengibaratkan kaidah-kaidah sosial itu dengan lampu-lampu lalu lintas. Bila tidak ada kaidah-kaidah itu, maka seluruh kehidupan bergolongan dengan segera akan menjadi kacau balau. Bilamana, masyarakat baru melepaskan kaidah atau aturan-aturan lama yang ada, sebelum terbentuknya kaidah yang baru bagi persekutuan itu, maka peristiwa seperti konflik Sampit ini sangat mungkin terjadi.

Menurut Dr Thamrin Amal Tomagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, ada empat faktor utama akar konflik di Kalimantan, yaitu;

  • Terjadinya proses marginalisasi suku Dayak. Pendidikan yang minim dan sedikitnya warga Dayak yang bisa menikmati pendidikan mengakibatkan sedikitnya warga Dayak yang duduk di pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah lebih banyak di pegang oleh warga pendatang.
  • Penempatan transmigran di pedalaman Kalimantan yang mengakibatkan singgungan hutan. Hutan bagi masyarakat Dayak adalah tempat tinggal dan hidup mereka. Ketika transmigran ditempatkan di pedalaman Kalimantan, dan mereka melakukan penebangan hutan, kehidupan masyarakat Dayak terganggu. Sejak tahun 1995 para transmigran di tempatkan di pedalaman Kalimantan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menempatkan transmigran di pesisir. Para pendatang baru inilah, yang dikenal keras dan pembuat masalah, tidak seperti pendatang-pendatang sebelumnya. Selain soal transmigrasi, pemerintah juga telah memberikan keleluasaan bagi para pengusaha untuk membuka hutan melalui HPH.
  • Masyarakat Dayak kehilangan pijakan, terganggunya harmoni kehidupan masyarakat Dayak mengakibatkan masyarakat Dayak kehilangan pijakan. Kekuatan adat menjadi berkurang. Kebijakan-kebijakan pemerintah telah menghilangkan atau mengurangi identitas mereka sebagai masyarakat adat.
  • Hukum yang tidak dijalankan dengan baik mengakibatkan banyaknya terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dibiarkan. Proses pembiaran ini berakibat pada lemahnya hukum dimata masyarakat, sehingga masyarakat menggunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan, diantaranya dengan menggunakan kekerasan.

Konflik antar suku bangsa Madura dan Dayak ini dapat dikatakan juga sebagai Masalah Sosial. Menurut Djaldjuni (1985), bahwa masalah sosial adalah suatu kesulitan atau ketimpangan yang bersumber dari dalam masyarakat sendiri, dan membutuhkan pemecahan dengan segera, dan sementara itu orang masih percaya akan masih dapatnya masalah itu dipecahkan. Arti bersumber dari dalam masyarakat itu sendiri adalah bahwa masalah tersebut munculnya sebagai bagian dari system kemana masyarakat biasanya berorientasi.

Perbedaan pola pandang orientasi suku bangsa Madura yang bertransmigrasi ke Sampit (Dayak) Kalimantan Tengah ini ialah salah satu hal yang memicu adanya Konflik sosial diantara Suku Bangsa ini. permasalah kasus konflik Sampit ini dapat dikaji dari beberapa perspektif teori sosiologi.

  1. A.    Perspektif berdasar teori Konflik

Tokoh utama dalam teori konflik ini ialah Ralf Dahrendorf. Beliau mengatakan bahwa masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya, kemudian setiap elemen atau institusi memberikan sumbangan terhadap disentegrasi sosial, dan yang terakhir teori konflik menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan oleh adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa. Konsep sentral teori ini adalah wewenang dan posisi, yang keduanya merupakan fakta sosial.

Sedangkan menurut Lewis A Coser (Poloma, 1987:115 dan Turner, 1986:165). Menurut Coser, konflik dapat bersifat fungsional secara positif maupun negative. Fungsional secara positif apabila konflik tersebut berdampak memperkuat kelompok, sebaliknya bersifat negative apabila bergerak melawan struktur. Dalam kaitannya dengan system nilai yang ada dalam masyarakat, konflik bersifat fungsional negative apabila menyerang suatu nilai inti. Dalam hal konflik antara suatu kelompok dengan kelompok lain, konflik dapat bersifat fungsional positif karena akan membantu pemantapan batas-batas structural dan mempertinggi interaksi dalam kelompok.

Masalah konflik atau terhambatnya proses integrasi sosial antara transmigran (madura) dengan penduduk asli (dayak) seringkali juga didasari oleh perbedaan atau pertentangan nilai. Selain itu, perbedaan nilai yang menyangkut unsure budaya fisik juga dapat menyulut terjadinya konflik yang bersifat destruktif atau fungsional negative terhadap integrasi sosial. Apalagi apabila kemudian disadari bahwa diantara kedua belah pihak terdapat juga pertentangan kepentingan sehingga masing-masing pihak berposisi sebagai kelompok kepentingan terhadap yang lain.

Yekni Maunati, dalam Identitas Dayak; Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, mengemukakan bahwa Orang Dayak adalah masyarakat yang defensif dan tidak reaktif. Banyak orang bilang bahwa etnis ini adalah etnis yang penyabar dan jarang marah. Etnis Dayak punya sistem hubungan yang cukup baik dengan etnis lain seperti saling menghormati dan sangat percaya atas apa yang dilakukan orang pada dirinya.  Namun kepercayaan mereka bukannya tanpa balasan artinya mereka bisa sangat kecewa jika dibohongi atau dikecewakan. Mereka bisa sangat baik dan menghamba jika di perlakukan baik namun akan sangat marah jika dikecewakan atau dibohongi. Perbedaan budaya pada dua komunitas ini melahirkan perbedaan pemaknaan tentang kehidupan masing masiang . Etnis Dayak menyatakan bahwa Orang Madura telah melanggar batas-batas nilai mereka dan Etnis Madura menganggap hal tersebut biasa bagi mereka. (Identitas Dayak; Komodifikasi dan Politi Kebudayaan, 2004). Sehingga, akibat dari perbedaan cara pandang nilai atau kaidah-kaidah yang sedari awalnya ada di lingkungan masyarakat Sampit, dan setelah datangnya suku Madura ke daerah mereka, maka terjadilah disentegrasi sosial hingga mengakibatkan rentetan konflik-konflik sosial yang berpuncak pada Februari 2001 silam.

“Pembantaian yang terjadi tidak bisa disederhanakan sebagai konflik antara orang Dayak dengan Madura, apalagi sebagai konflik agama. Tapi akar dari masalah ini sudah lama tercipta ketika pemerintahan Orde Baru, yang didukung oleh lembaga-lembaga hutang internasional, secara bersama-bersama menanam modal di proyek-proyek besar, yang juga menanam akar dari konflik yang terjadi sekarang ini dan juga menggambarkan situasi kemanusiaan di Indonesia secara umum” (Pernyataan NGO, Jakarta 1 Maret 2001).

Dalam perspektif institusional dalam teori konflik Dahrendorf dinyatakan bahwa masyarakat tersusun dalam suatu struktur dimana sebagian anggota masyarakat mempunyai kekuatan (power) termasuk penguasaan resources, kesempatan, dan peluang yang lebih besar dibandingkan dengan anggota masyarakat lain. Dengan demikian, lapisan ini mampu mengendalikan dan mengontrol kehidupan sosial ekonomi dalam system sosialnya. Sebagai akibat lebih lanjut adalah adanya ketimpangan dan distribusi yang tidak merata antara lapisan yang lebih menguasai power, resources, dan kesempatan, disbanding lapisan lain.

Ketidakseimbangan pengiriman jumlah pendatang atau transmigran dari suku Madura ke wilayah Sampit sehingga menekan posisi para penduduk aslinya yaitu suku dayak. Membuat rentetan konflik diwilayah tersebut tejadi. Orang Suku Dayak dapat dikatakan menjadi suatu kelompok minoritas di wilayahnya sendiri, sehingga kelompok Suku Madura terlihat lebih menguasai tanah Ibu masyarakat Dayak tersebut. Potensi kearah konflik akan menjadi semakin bertambah besar apabila kelompok minoritas cenderung bersifat ekslusif sebagaimana disebutkan sebagai lima karakteristik kelompok minoritas berikut ini (Wagley and Harris, dalam Julian : 1986:234).

1)      Minoritas merupakan sub ordinasi dari masyarakat yang kompleks

2)      Minoritas cenderung mempunyai cirri fisik atau penampilan budaya khusus yang tidak disukai oleh kelompok yang dominan dalam masyarakat.

3)      Minoritas cenderung mengembangkan kesadaran berkelompok dan rasa kebersamaan diantara mereka

4)      Anggota kelompok minoritas diwarisi aturan dan nilai turun temurun daari kelompok mereka, untuk mempertahankan karakteristik kelompok pada generasi berikutnya.

5)      Anggota kelompok minoritas cenderung melakukan endogamy atau perkawinan diantara sesame anggotanya sendiri.

Dalam hal ini kelompok etnis dayak merupakan kelompok minoritas yang semakin lama semakin tertekan akibat rentetan masalah sosial yang terjadi pada etnis mereka, hanya saja kelompok dayak terlalu lama memendam rasa amarah mereka dari tahun ke tahun sehingga mengakibatkan perang yang memuncak pada Februari 2001. Ketidakadilan yang mereka rasakan menjadi factor utama mereka melaksanakan perang ini. ketidakadilan yang mereka rasakan tentu saja takkan mereka rasakan apabila sedari awal pemerintah dapat mempertimbangkan lebih matang ketika ingin mengirim para transmigran ke wilayah Sampit, Kalimantan Tengah.

B.     Perspektif berdasar teori Interaksionisme Simbolik

Teori ini bersumber dari paradigma definisi sosial. Buah pikiran yang cukup penting dalam paradigma ini adalah karya Weber dalam analisisnya tentang tindakan sosial (social action) (Ritzer, 1980:84). Weber tidak memisahkan dengan tegas antara struktur sosial dan pranata sosial. Keduanya membantu membetuk tindakan manusia yang penuh arti atau penuh makna. Pokok persoalan dalam paradigma ini adalah tindakan sosial antar hubungan sosial. Tindakan sosial dimaksudkan sebagai tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan bagi tindakan orang lain. Teori Interaksionisme Simbolik yang dibangun dari paradigma definisi sosial memandang manusia sebagai aktor yang sadar dan reflektif, yang menyatukan objek-objek yang diketahuinya melalui apa yang disebut Blumer sebagai self indication (Poloma, 1987:264). Self indication adalah proses komunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memikirkan untuk bertindak berdasarkan makna itu. bagi Blumer Interaksionisme Simbolis bertumpu pada tiga premis.

1)      Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka

2)      Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain

3)      Makna-makna tersebut disempurnakan disaaat proses interaksi sosial berlangsung

Dari ketiga premis tersebut dapat dimaklumi apabila bagi teori ini, konsep individual, interaksi dan interpretasi merupakan tiga terminology kunci dalam memahami kehidupan sosial. Semenjak Kelompok etnis Madura bertransmigrasi ke wilayah Sampit. Hubungan antara etnis Madura dan Dayak tidak dapat berinteraksi secara harmonis antara sesamanya sehingga lama kelamaan interpretasi mereka antar etnis masing-masing memiliki anggapan yang sangat bertentangan. Akibat pertentangan ini akhirnya menimbulkan konflik antar pihak Madura dan Dayak.

Salah satu teori terpenting dalam Interaksionisme Simbolik juga dikemukakan oleh George Herbert Mead. Secara subtansif, teori Mead menitikberatkan dan memprioritaskan dunia sosial. Jadi, dari dunia sosial inilah kesadaran, pikiran, diri, dan lain sebagainya muncul. Unit paling dasar teori sosial adalah perbuatan, yang meliputi empat tahap yang terkait secara dialektis-impuls, persepsi, manipulasi, dan komunikasi. Tindakan sosial melibatkan dua orang atau lebih, dan mekanisme dasar tindakan sosial adalag gesture. Manusia mampu menciptakan gesture vocal, dan ini membawa pada kemampuan khas manusia untuk mengembangkan dan menggunakan symbol-simbol signifikan menyebabkan perkekmbangan bahasa dan kapasitas manusia untuk berkomunikasi, dengan pengertian sebenarnya, satu sama lain. Symbol-simbol signifikan juga memungkinkan untuk berpikir maupun melakukan interaksi menggunakan symbol.

Penyebab lain dari konflik antara masyarakat adat dengan pemukim Madura – dan konflik-konflik lain di Indonesia – adalah ‘pembangunan’ yang dipromosikan rejim Suharto selama tiga puluh tahun lebih. Sumber-sumber daya alam, termasuk hutan dan tambang Kalimantan diberikan kepada elite bisnis yang berkuasa sebagai konsesi. Pemilik adat – masyarakat adat Dayak – secara sistematis ditolak hak-haknya atas tanah dan sumber daya alam. Mereka tidak punya jalan untuk menempuh langkah hukum dalam mempertahankan hak-hak mereka karena, berdasarkan undang-undang Indonesia, hutan merupakan milik negara.

Akibatnya masyarakat Madura dan dayak tidak bisa malakukan interaksi secara harmonis karena pemaknaan symbol yang berbeda dari diri mereka masing-masing. Masyarakat Madura menganggap apa yang mereka lakukan dengan tanah adat atau hutan yang ada di wilayah sampit sebagai bagian dari kewajiban mereka sebagai transmigran yang diperuntukkan mengolah lebih lanjut hutan disana. sedangkan para suku Dayak yang bertumpu hidup pada hutan dan tersimpan banyak aturan adat yang ada didalamnya merasa diacuhkan serta dilupakan. Sehingga, konflik demi konflik pun tak bisa dihindari terjadi.

Pemaknaan yang berbeda ini semata-mata tidaklah salah. Sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah sewaktu memindahkan masyarakat Madura ke wilayah sampit tidaklah matang. Karena banyak aspek yang dilupakan. Mereka lupa, bahwa ada penduduk asli sana yang telah hidup dari zaman nenek moyang hingga akhirnya suku Madura datang. Mereka sangat menjaga hutan kala itu, sehingga hutan dikalimantan tengah khususnya masih sangat luas dan terjaga keasliannya. Namun, semenjak masyarakat Madura datang ke wilayah Sampit ditambah para pemodal asing dalam bidang perdagangan kayu-kayu hutan. Hutan dikalimantan pun meranggas satu persatu. seharusnya pemerintah dapat berpikir lebih luas lagi sewaktu ingin melakukan transmigrasi pada warganya. Sehingga, konflik seperti ini bisa tidak terjadi atau paling tidak bukan konflik yang sebesar ini. karena, sangat banyak pihak yang dirugikan, baik pihak dari Suku Dayak, maupun dari suku Madura.

Ada beberapa hal untuk menangani kasus konflik sampit ini bila didasarkan pada teori konflik, diantaranya adalah:

  1. Katup penyelamat (savety value): ialah suatu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat membiarkan luapan permusuhan tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur. Banyak orang melihat cara ini dapat berfungsi sebagai jalan keluar yang meredakan permusuhan. Tanpa sarana tersebut hubungan-hubungan diantara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin tajam.
  2. Simbiosme mutualistik, dalam arti mengusahakan suasana atau iklim sedemikian rupa, sehingga diantara kelompok-kelompok yang potensial terlibat konflik merasa dapat saling mengambil keuntungan dari kehadiran masing-masing. Bila dikatakan bahwa suku Madura jauh lebih pandai, ulet, pekerja keras. Dengan melakukan interaksi sosial yang baik dengan masyarakat suku dayak bisalah sedikit berbagi ilmu. Saling merangkul karena mereka sudah berada dalam satu tanah. Penanaman nilai, juga sosialisasi yang sempurna perlu digiatkan kembali.
  3. Nilai koordinatif, dalam pengertian ada suatu nilai inti yang mampu mengkoordinasikan setiap nilai yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian nilai-nilai yang ada berkedudukan subordinasi terhadap nilai koordinatif ini. sebelum pemerintah menentukan peraturan apa yang ditetapkan untuk wilayah sampit, janganlah lupa turut sertakan pendapat penduduk aslinya. Sehingga hukum adat, dengan hukum pemerintah dapat sejalan sehingga kecemburuan sosial dapat terhindarkan.
  4. Transformasi structural, dalam pengertian ditransformasikan suatu struktur sosial baru yang diperhitungkan dapat menghilangkan perbedaan posisi yang mengakibatkan konflik nilai dan konflik kepentingan.

Selain itu dalam sudut pandang kewarganegaraan, seharusnya pemerintah menaati undang-undang Dasar yang telah ditetapkan mengenai persamaan kedudukan warga negara dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kasus konflik ini terlihat sekali, bahwa suku dayak sangat terdeskriditkan diwilayah mereka sendiri, justru masyarakat suku Madura yang berkuasa. Pemerintahpun kurang melakukan pemerataan dalam berbagai aspek untuk masyarakat suku dayak. Pendidikan, kesejateraan, tanah adat, dan lain sebagainya banyak terlupakan untuk masyarakat suku dayak. Sehingga, tak heran apabila ketika masayrakat suku Madura masuk kewilayah sampit. Mereka dapat mendominasi wilayah itu secara pesat. Karena landasan mereka adalah hukum Indonesia, bukan Hukum Adat Dayak yang tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah.

Secara sosiologis, secara umum ada dua metode dalam penanggulangan masalah sosial, yaitu metode yang bersifat preventif dan metode yang bersifat represif. Metode preventif dilakukan dengan mengadakan penelitian yang mendalam terhadap kemungkinan gejala-gejala sosial yang dapat menimbulkan masalah sosial. Sedangkan metode represif adalah proses penanggulangan secara langsung terhadap masalah sosial yang sedang tumbuh dan dirasakan oleh masyarakat. Artinya, tindakan penanggulangan baru akan dilakukan setelah gejala-gejala sosial itu dapat dipastikan sebagai masalah sosial.

Selain itu, dengan metode analisis dan perencanaan sosial pun dapat dilakukan untuk menangani konflik sampit ini. yaitu dengan cara melakukan penelitian-penelitian secara ilmiah. Para penelitinya mengumupulkan data sebagai dasar untuk mencari penyebab-penyebab timbulnya masalah sosial yang sedang terjadi atau secara langsung menerapkan hasil keputusan pemikiran-pemikiran tertentu untuk meniadakan masalah sosial tersebut. Metode ini tidak semata-mata mendasarkan pada kenyataan yang ada, tetapi juga mempertimbangkan cara-cara yang bersifat tradisional. Metode ini berusaha menyesuaikan diri terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat, sebab jika tidak akan sulit dapat bekerja sama dengan msayarakat desa, lantara mereka biasanya bersifat konsservatif. Penerapan metode ini selalu disertai oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu terhadap nilai-nilai sosial berserta adat istiadat masyarakat setempat agar terdapat keseimbangan dan kerjasama yang harmonis dalam usaha penanggulangan masalah-masalah sosial tersebut. Dan perencanaan sosial ialah metode yang didasarkan pada fakta-fakta menurut hasil penelitian ilmiah dan bukan berdasarkan pengalaman-pengalaman praktis atau penelitian-penelitian tanpa perhitungan. Pemikirannya adalah usaha yang berorientasi pada masa depan dengan ukuran waktu dan biaya yang telah ditetapkan. Perencanaan sosial berarti usaha memperhitungkan dan menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih serasi sesuai dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara sosiologis, perencanaan sosial pada dasarnya merupakan alat untuk mempermudah usaha manusia menuju kepada suatu kemajuan sosial (social progress).

DAFTAR PUSTAKA

Abdulsyani. 2002. SOSIOLOGI Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara

Sunarso, dkk. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: UNY Press

Soetomo. 1995. Masalah Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka Jaya

Ritzer, George and Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana

P. J. Bouman. 1951. Ilmu Masyarakat Umum. Jakarta: Pustaka Sarjana

“Penelusuran lengkap sejarah Pertikaian Sampit, Asal Mula kerusuhan Sampit[KALTENG] – Kaskus – The Largest Indonesian Community” http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1258061 diakses pada tanggal 17 November 2011

Mengenang Kerusuhan Sampit, 2001 http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/21/mengenang-kerusuhan-sampit-2001/  diakses pada tanggal 17 November 2011

Ruang Kontemplasi: Konflik Madura – Sampit http://iqfirdaus.blogspot.com/2008/09/wahidiyah.html diakses pada tanggal 17 November 2011

http://rahmatullah.banten-institute.org/2010/10/interaksionisme-simbolik-pada-kasus.html diakses pada tanggal 17 November 2011

http://sonnyw.wordpress.com/2006/07/04/sampit-chaos/ diakses pada tanggal 19 November 2011

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s